Monday, April 7, 2014

Pemimpin Tidak Berani Mengambil Keputusan

I.     Pendahuluan
A.     Latar Belakang
Untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan, dua orang atau lebih dapat bekerja sama dalam proses yang disebut administrasi. Proses tersebut terjadi dalam wadah yang disebut organisasi. Dalam kehidupan berorganisasi terdapat proses manajemen yang bertumpu kepada kepemimpinan. Inti dari kepemimpinan adalah pengambilan keputusan. Didalamnya terjadi proses pemilihan alternatif  yang tersedia untuk menyelesaian permasalahan tertentu, sehingga dapat dikatakan inti dari administrasi adalah pemilihan alternatif-alternatif untuk menyelesaikan permasalahan.
Pemimpin memiliki peran sangat sentral dalam pengambilan keputusan. Sebaliknya dalam proses pembuatan keputusan dapat tidak terlibat secara langsung, disinilah peran bawahan/staf terlihat. Salah satu peran bawahan adalah menyediakan alternatif-alternatif solusi untuk pilih oleh pimpinan menjadi sebuah keputusan. Menjadi tantangan ketika pilihan alternatif-alternatif  yang disediakan tidak dipilih oleh pimpinan menjadi suatu keputusan. Mengapa hal tersebut terjadi? Terdapat dua hal yang menjadi penyebab, pertama rendahnya kualitas alternatif pilihan yang diajukan. Kedua, Pimpinan memang tidak berani mengambil keputusan.


B.   Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang diatas dapat dirumuskan suatu rumusan masalah yakni Mengapa pemimpin tidak berani mengambil keputusan?

II.            Kerangka Teori
Beberapa teori yang digunakan dalam menganalisis masalah Mengapa pemimpin tidak berani mengambil keputusan sebagai berikut:
Keputusan (decision) menurut Mc. Farland (1990, 116) adalah “Suatu tindakan pemilihan dimana pimpinan menentukan suatu kesimpulan tentang apa yang harus atau tidak harus dilakukan dalam suatu situasi tertentu.Pengambilan Keputusan  adalah tindakan, sikap, ucapan rasional mempertemukan niat dan kesempatan untuk bertindak.”
Prof. Dr. Prajudi Atmosudirjo mendefinisikan keputusan sebagai suatu pengakhiran dari proses pemikiran tentang suatu masalah atau problema untuk menjawab pertanyaan apa yang harus diperbuat guna mengatasi masalah tersebut, dengan menjatuhkan pilihan pada suatu alternatif.
Soewarno (1990, 117) mendefiniskan keputusan sebagai suatu perbuatan (sikap) pemilihan daripada sejumlah kemungkinan alternatif dan sejumlah alternatif tersebut tidak harus dipilih semua, tetapi dipilih beberapa saja, atau dipilih salah satu.
Dari uraian mengenai keputusan tersebut dapat disimpulkan bahwa keputusan adalah pilihan atas beberapa alternatif yang tersedia untuk mengatasi permasalahan tertentu.
Setelah menguraikan definisi keputusan selanjutnya perlu diuraikan definisi membuat keputusan. Terry (1992, 17) menyebutkan definisi membuat keputusan sebagai memilih suatu alternatif dari dua pilihan atau lebih, untuk menentukan suatu pendapat atau perjalanan suatu tindakan.
Kualitas keputusan terletak pada bagaimana keputusan tersebut dibuat. Beberapa langkah pembuatan keputusan diuraikan sebagai berikut:
Menurut Simon (1960) ada beberapa tahap pengambilan keputusan, disebutkan olehnya proses pengambilan keputusan ada 4 tahapan yakni :
1.     Intelligence : pengumpulan informasi untuk mengindetifikasikan permasalahan
2.     Design : tahap perancangan solusi dalam bentuk alternative pemecahan masalah
3.     Choice : tahap memilih dari solusi dari alternative-alternativeyang disediakan
4.     Implementation : tahap melaksanakan keputusan dan melaporkan hasilnya
Tata Sutabri mengemukakan 7 tahap pembuatan keputusan sebagai berikut:
1.    Pemahaman dan Perumusan masalah
2.    Pengumpulan dan analisis data yang relevan
3.    Pengembangan alternatif-alternatif
4.    Evaluasi alternatif-alternatif
5.    Pemilihan alternatif terbaik
6.    Implementasi keputusan
7.    Evaluasi hasil-hasil keputusan

Selain berdasarkan tahapan pembuatan keputusan, pengambilan keputusan bergantung kepada lingkungan pengambilan keputusan yakni lingkungan internal (manajemen, sistem dan prosedur, kepemimpinan) dan lingkungan eksternal (ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan).
Terdapat pula dimensi-dimensi yang mempengaruhi pengambilan keputusan yaitu:
1.    Etika dan moral
2.    Intelektual
3.    Managerial
4.    Behavioral
5.    Environmental

III.           Analisis

Salah satu contoh ketidakberanian pimpinan dalam memilih alternatif-alternatif solusi yang telah disampaikan oleh bawahan dalam pengambilan keputusan diantaranya pemimpin tidak memilih alternatif tersebut. Ujungnya permasalahan yang memerlukan suatu keputusan tertunda penyelesaianya atau parahnya terbengkalai menunggu apabila ada yang mengingatkan. Pernah mendengar kalimat “Are You Stupid or Ignorance?” demikian contoh reaksi yang dikeluarkan pemimpin terhadap usulan keputusan yang disampaikan oleh bawahan. Arahan yang tidak jelas dari pimpinan kepada bawahan atas suatu permasalahan disertai dengan lepas tangan dari keputusan yang telah disusun alternatifnya oleh bawahan sehingga pada akhirnya bawahan sendiri yang memutuskan.
Dari sudut pandang teori pengambilan keputusan hal tersebut disebabkan oleh dua hal yakni rendahnya kualitas alternatif pilihan yang diajukan dan Pimpinan memang tidak berani mengambil keputusan.
Dalam teori pembuatan keputusan, keputusan yang baik setidaknya didasari oleh proses-proses berikut:
1.    Pemahaman dan Perumusan masalah
Dalam tahapan ini termasuk didalamnya menentukan mana yang menjadi masalah utama mana masalah sekunder. Salah dalam memahami permasalahan menyebabkan solusi yang diambil jauh dari harapan.
2.    Pengumpulan dan analisis data yang relevan
Pengumpulan data-data yang diperlukan untuk penyelesaian masalah, menentukan mana data utama, mana data pendukung.
3.    Pengembangan alternatif-alternatif
Pengembangan alternatif memungkinkan solusi-solusi beragam yagn dihasilkan. 
4.    Evaluasi alternatif-alternatif
Setelah mengembangkan alternatif-alternaif solusi perlu dilakukan evaluasi terhadap solusi tersebut, sehingga hanya alternatif terbaik yang akan diusulkan untuk dipilih.

Perbaikan terhadap proses-proses diatas disertai penjelasan yang tepat terhadap pimpinan dapat lebih membuat pimpinan menerima alternatif keputusan untuk dipilih sebagai keputusan.
Hal kedua berupa ketidakberanian pemimpin untuk mengambil keputusan diantaranya terpengaruh oleh dimensi-dimensi pengambilan keputusan. Yang paling dominan adalah dimensi intelektual dan behavioral.
Dimensi intelektual berdasarkan kondisi keberanian dan kompetensi menghasilkan 4 tipe pengambil keputusan yakni tegas, lamban, plin plan dan ragu-ragu. Dalam contoh kasus pemimpin tidak berani mengambil keputusan, pemimpin tersebut berada dalam tipe ragu-ragu dan plin plan.
Dimensi berikutnya adalah kebiasaan (behavioral). Dimensi ini meng-capture pemimpin dari dua sudut yakni resiko dan ketegasan. 4 tipe pemimpin berdasar dimensi ini adalah risk taker, decides not to lose, decides not to win, dan safety player.
Tipe pemimpin dalam kasus ini dapat berada pada posisi safety player yang tidak berani untuk mengambil resiko dan/atau melimpahkan resiko kepada bawahan.

IV.          Kesimpulan
Dari uraian diatas disimpulkan bahwa pemimpin tidak berani mengambil keputusan disebabkan karen rendahnya kualitas alternatif pilihan yang diajukan dan Pimpinan tidak berani mengambil keputusan.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut dilakukan perbaikan proses pembuatan keputusan dan penyampaian alternatif keputusan yang tepat kepada pemimpin. Sedangkan untuk pimpinan yang tidak berani mengambil keputusan adalah dengan pengembangan karakter positif dalam dimensi-dimensi penambilan keputusan.


Daftar Pustaka
Prajudi, Atmosudirdjo S. 1982. Beberapa Pandangan Umum Tentang Pengambilan Keputusan : Decision Making. Jakarta: Ghalia Indonesia
Sutabri, Tata. 2005. Sistem Informasi Manajemen. Yogyakarta: Andi
Handayaningrat, Soewarno. 1990. Pengantar Studi Ilmu Administrasi dan Manajemen. Jakarta: CV Haji Masagung
Terry, George R, Leslie W. Rue. 1992. Dasar - Dasar Manajemen. Jakarta: Bumi Aksara
Sheila Pramita, Pengambilan Keputusan di Organisasi, online diakses 20 maret 2014 http://infopelajarindonesia.blogspot.com/2013/05/pengambilan-keputusan-di-organisasi.html

No comments:

Post a Comment